Lukisan Klasik Paling Terkenal Sepanjang Masa

Lukisan Klasik Paling Terkenal Sepanjang Masa





Friday Art Picks: Trips Down Memory Lane


Friday Art Picks: Trips Down Memory Lane

Pernah merasa akrab dengan sebuah lukisan, meski kamu tidak pernah melihatnya secara langsung? Ada karya-karya seni yang hidup lebih lama dari penciptanya—menyeberangi abad, budaya, dan generasi. Kita mengenalnya sejak kecil, dari buku pelajaran, poster dinding, hingga layar digital. Inilah karya-karya yang bukan sekadar indah, tapi juga membentuk ingatan kolektif manusia.

Di edisi Friday Art Picks kali ini, kita melakukan trips down memory lane lewat empat karya ikonik dari para Old Master dan seniman legendaris. Masing-masing punya sejarah panjang, kisah manusia di baliknya, dan alasan kenapa hingga hari ini mereka tetap relevan—dan selalu dicari.


1. Da Vinci Monas Lisa

Mona Lisa by Leonardo da Vinci

Dilukis sekitar tahun 1503–1506, Mona Lisa lahir pada masa puncak Renaisans Italia era ketika seni, sains, dan pemikiran manusia berkembang pesat. Sosok perempuan dalam lukisan ini diyakini sebagai Lisa Gherardini, istri saudagar Florentine Francesco del Giocondo, meski identitasnya terus menjadi bahan diskusi hingga kini.

Yang membuat Mona Lisa begitu revolusioner adalah teknik sfumato karya Leonardo: peralihan warna yang sangat halus tanpa garis tegas. Wajahnya tampak hidup, senyumnya seolah berubah tergantung sudut pandang, menciptakan ilusi emosi yang belum pernah ada sebelumnya.

Popularitas lukisan ini melonjak drastis setelah peristiwa pencurian tahun 1911, ketika dunia seakan “kehilangan” Mona Lisa selama dua tahun. Sejak saat itu, ia bukan hanya karya seni, tapi simbol global ikon misteri, kejeniusan, dan keabadian seni.


2. Da Vinci The Lady with an Ermine

The Lady with an Ermine by Leonardo da Vinci

Dilukis sekitar 1489–1490, karya ini menampilkan Cecilia Gallerani, perempuan muda yang dikenal akan kecerdasannya dan hubungannya dengan Ludovico Sforza, penguasa Milan. Pada masanya, potret perempuan sering kali kaku dan formal namun Leonardo menghadirkan sesuatu yang sangat berbeda.

Cecilia digambarkan dalam pose dinamis, dengan tatapan mengarah ke luar kanvas, seolah ada momen yang baru saja terjadi. Cerpelai (ermine) di pelukannya bukan hanya elemen visual, melainkan simbol kemurnian, intelektualitas, dan status politik.

Lukisan ini memperlihatkan bagaimana Leonardo tidak sekadar melukis wajah, tetapi juga kepribadian dan kehidupan batin subjeknya. Karena itulah, karya ini terasa intim—dan tetap menyentuh, bahkan setelah lebih dari lima abad berlalu.


3. Hokusai The Great Wave

The Great Wave off Kanagawa by Hokusai

Diciptakan sekitar tahun 1831 sebagai bagian dari seri Thirty-Six Views of Mount Fuji, karya ini berasal dari tradisi cetak kayu Jepang atau ukiyo-e. Berbeda dengan lukisan istana, cetak kayu memungkinkan seni dinikmati oleh masyarakat luas.

Ombak raksasa yang hampir menelan perahu-perahu nelayan menggambarkan kekuatan alam yang brutal dan tak terprediksi. Di kejauhan, Gunung Fuji berdiri kecil namun tenang simbol keteguhan dan keabadian di tengah kekacauan.

Menariknya, karya ini kemudian memberi pengaruh besar pada seniman Eropa seperti Van Gogh dan Monet. The Great Wave menjadi bukti bahwa sebuah gambar mampu melampaui batas geografis dan menjadi bahasa visual universal.


4. Van Gogh Starry Night 1889

The Starry Night by Vincent van Gogh

The Starry Night dilukis pada tahun 1889, saat Vincent van Gogh menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Saint-Rémy-de-Provence. Pemandangan malam ini diambil dari jendela kamarnya, namun diolah melalui emosi dan imajinasi sang seniman.

Langit berputar dengan sapuan kuas tebal mencerminkan pergolakan batin Van Gogh gelisah, penuh tekanan, namun juga sarat kekaguman terhadap semesta. Desa yang tenang di bawahnya menciptakan kontras dramatis antara ketenangan dan kekacauan.

Kini, The Starry Night menjadi salah satu karya seni paling dikenali di dunia. Banyak orang mengenalnya sejak masa kecil, menjadikannya simbol nostalgia visual yang membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan emosi lintas waktu.


Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *